Tampilkan postingan dengan label Fasilitasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fasilitasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juni 2008

TEKNIK MEMFASILITASI PELATIHAN

Dalam memfasilitasi sebuah pelatihan, ternyata ada dua hal penting yang perlu diperhatikan oleh seorang fasilitator, yaitu:

  • Isi / Konten, yaitu materi atau pokok bahasan yang sedang ditangani, dikelola atau dipelajari, didiskusikan, dibahas bersama
  • Proses, yaitu bagaimana langkah-langkah atau caranya seluruh peserta pelatihan melakukan inter-aksi belajar, membahas suatu "isi / konten".

Pada saat fasilitator mempersiapkan agenda dan mendefinisikan tujuan serta harapan peserta bersama dengan peserta pelatihan, pada dasarnya fasilitator memikirkan tentang isi / konten. Tetapi ketika pelatihan itu sedang berlangsung, fasilitator terlibat dalam suatu proses.

Dalam pelatihan partisipatif pekerjaan utama seorang fasilitator ialah membantu peserta pelatihan untuk bekerja dan belajar dengan lebih baik secara bersama-sama. Dengan kata lain bahwa tugas dan pekerjaan utama fasilitator adalah "belajar bagaimana belajar". Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh fasilitator, yaitu:

  • Fasilitator hendaknya berhati-hati untuk tidak membiarkan minatnya hanya dalam isi / konten dan melupakan proses bagaimana peserta pelatihan itu bekerja
  • Pada umumnya, fasilitator semakin mampu menjaga kendali atas dirinya sendiri, dan tidak banyak terlibat dalam proses belajar semakin baik fasilitator tersebut melakukan fasilitasi
  • Fasilitator harus bisa memfokuskan perhatiannya pada proses dan menempatkan posisi berada di luar kelompok peserta pelatihan, agar dapat melakukan fasilitasi dengan baik
  • Tidak perlu merasa kuatir untuk menunjukkan dirinya sendiri atau melindungi ego dan kepentingannya sendiri (fasilitator)
  • Fasilitator perlu meneruskan dan mengembangkan ketrampilan-ketrampilan proses peserta pelatihan yang bisa digunakan sendiri dan ini merupakan kesempatan fasilitator yang paling baik untuk meninggalkan mereka dengan sesuatu nilai yang langgeng.

Berikut ini, beberapa uraian umum yang berguna bagi fasilitator dalam memahami apa yang sedang terjadi dalam pelatihan yang sedang difasilitasi, yang meliputi :

  • Komunikasi dan dinamika kelompok,
  • Beberapa tekinik-teknik yang dapat dipergunakan dalam memfasilitasi antara lain:
    • bagaimana menyusun pertanyaan-pertanyaan,
    • memfasilitasi suatu diskusi dan mengunakan latihan-latihan.

Teknik-teknik tersebut pada umumnya akan dipergunakan pada setiap saat dan dalam pelatihan apa saja.

TEKNIK KOMUNIKASI

Teknik Komunikasi

Komunikasi merupakan hal yang paling utama dalam pelatihan apa saja. Keefektifan seorang fasilitator tergantung pada kemampuannya untuk berkomunikasi dengan baik. Kemampuan untuk melakukan komunikasi secara efektif adalah suatu keterampilan, dan seperti juga dengan keterampilan lainnya, paling baik mendapatkannya melalui praktek dan kritik pribadi.

Berikut ini ada beberapa pokok pengalaman dan strategi untuk melakukan komunikasi yang efektif. Ketentuan ini tidak hanya merupakan petunjuk bagi fasilitator, tetapi juga boleh jadi sebagai bahan yang berguna untuk disajikan dalam suatu lokakarya. Fasilitator bukanlah satu-satunya orang yang harus melakukan komunikasi.

Menyesuaikan diri dengan para pendengar

Sesuatu yang tampaknya begitu jelas pada seseorang atau fasilitator mungkin mempunyai arti yang sama sekali berbeda, atau boleh jadi sama sekali tidak dapat dipahami keseluruhannya oleh orang lain atau para peserta pelatihan. Orang lain mempunyai pengalaman yang saling berbeda satu dengan yang lainnya. Sebagai akibatnya, mereka mungkin mempunyai pemahaman yang berbeda-beda terhadap kata-kata, tanda-tanda dan mimik-mimik dari pada yang dimaksudkan.

Untuk mengurangi kemungkinan ini, sesuaikan :

  • Bahasa anda. Pastikan bahwa istilah-istilah yang dipergunakan adalah istilah-istilah yang sudah umum digunakan oleh peserta pelatihan. Jangan menggunakan istilah-istilah teknik, atau kata-kata atau istilah-istilah yang hanya umum digunakan oleh suatu profesi atau bidang studi tertentu, tanpa memastikan bahwa semua peserta pelatihan setuju dan memahami artinya. Hindari penggunaan istilah asing selama sudah ada istilah bahasa Indonesia. Suatu kesalahpahaman yang terjadi pada suatu pelatihan, misalkan saja istilah atau kata "intervensi" mempunyai arti yang sama sekali berbeda bagi seseorang karena mempunyai latar belakang yang berbeda
  • Gaya dan Penampilan Fasilitator. Cara berpakaian, membawa diri, dan melakukan inter-aksi dengan yang lain akan mempengaruhi seberapa baik seorang fasilitator menyesuaikan diri dengan peserta pelatihan. Pada umumnya, jika seorang fasilitator tampil secara informal, dan merasa senang dengan peserta pelatihan, hal itu akan membantu membuat mereka merasa santai juga. Tetapi menginterpretasikan kata "informal" perlu pula memperhatikan norma-norma yang ada. Jangan berpakaian atau bertindak dengan cara-cara yang dapat memberikan kesan yang palsu atau negatif, tetapi berusahalah sedapat mungkin menghindari membuat orang-orang tidak berdaya dengan memunculkan diri sebagai orang asing atau membuat mereka merasa takut dengan cara apapun.

Mendengarkan itu penting

Kita semua sudah mendengar dan berkali-kali ditekankan betapa pentingnya "mendengarkan", tetapi sebenarnya mendengarkan itu jauh lebih sukar dari pada yang disadari banyak orang. Hampir seluruh waktu ketika seseorang sedang berbicara pada kita, kita sebenarnya sedang tidak mendengarkannya dengan sungguh-sungguh; kita sedang memikirkan tentang apa yang akan kita katakan dalam memberikan jawaban.

  • Bilamana sedang mendengarkan seseorang usahakan agar tidak dengan segera melakukan evaluasi tentang apa yang sedang dikatakan.
  • Upayakan untuk memahami apa yang maksud atau arti sebenarnya menurut perspektif orang lain.
  • Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang akan membantu untuk lebih memahami apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan orang lain.

Hal-hal tersebut di atas tidak hanya akan memperoleh pemahaman yang lebih baik, tetapi akan bisa memberikan suatu jawaban yang mempunyai makna bagi orang lain, ditinjau dari sudut pandang orang lain.

Latihan berikut akan membantu fasilitator untuk lebih menyadari akan keterampilan-keterampilan mendengarkan :

Menyadari apa yang sedang terjadi dalam pelatihan

Berbagai isyarat baik secara verbal maupun non-verbal memberikan petunjuk pada seorang fasilitator tentang bagaimana seseorang akan memberikan reaksi. Fasilitator boleh mengatur dan menyesuaikan gayanya (dengan berbicara lebih cepat, lebih lambat, pada tingkatan yang lebih kurang cukup rumit, dengan mendorong lebih banyak atau kurang partisipasi kelompok) atau fasilitator boleh memeriksakan pemahamannya atas isyarat-isyarat ini bersama peserta pelatihan dan meminta mereka memberikan saran demi melakukan revisi-revisi dalam metode. Beberapa isyarat yang perlu diperhatikan ialah :

  • Keresahan. Apakah orang-orang sering berpindah berdiri ? Apakah mereka mendehem atau sedang bercakap-cakap tentang hal lain ? Jika demikian, fasilitator mungkin kehilangan mereka. Fasilitator mungkin membosankan bagi mereka atau berbicara terlalu tinggi pada mereka, atau boleh jadi kelelahan biasa.
  • Bilamana terjadi keheningan, apakah mereka kelihatan senang atau tidak senang ? Dalam sebuah pelatihan yang tegang, keheningan bisa saja menimbulkan penderitaan. Jika memang inilah masalahnya, beberapa hal bisa saja terjadi : orang mungkin saja menjadi bosan karena fasilitator terlalu lambat atau karena bahan-bahan yang dibawakan terlalu sederhana; orang-orang mungkin saja tidak senang dengan pokok bahasan; atau mungkin juga orang-orang merasa malu antara satu dengan yang lain dan terlalu percaya diri untuk berbicara di depan kelompok.
  • Apakah orang-orang menatap pada fasilitator ketika anda berbicara ? Jika demikian, mereka mungkin merasa senang dengan fasilitator dan tergugah dengan apa yang sedang disampaikan. Jika ada upaya peserta menghindari tatapan mata, mungkin ada sesuatu yang salah / tidak beres.
  • Apakah orang-orang saling memandang satu sama lain bila mereka berbicara ? Sekali lagi, jika mereka tidak menghindari saling menatap satu sama lain, itu merupakan suatu pertanda bahwa kelompok itu tidak tegang / santai dan biasa-biasa saja. Jika dua orang atau lebih tidak mau saling memandang, atau jika ada dua orang atau lebih orang tidak akan saling berbicara antara satu dengan yang lain, mungkin ada sesuatu yang tidak beres.
  • Mimik dan Gerak Tubuh dari peserta pelatihan. Orang sering bersandar ke depan dan bertukar posisi bilamana mereka ingin mengatakan sesuatu. Gerakan atau mimik juga dapat merefleksikan ketegangan atau seberapa jauh seseorang merasa santai di dalam suatu pelatihan. Tentu saja, mimik dan gerak tubuh juga merefleksikan tentang seberapa jauh kelelahan peserta atau seberapa jauh perhatian peserta dalam pelatihan.

Tidak satupun dari isyarat-isyarat ini dapat "menceritakan" pada fasilitator secara absolut apa yang sedang terjadi. Fasilitator harus menyadari akan situasi mereka dan memulai menginterpretasikan mereka. Bahkan lebih penting lagi, fasilitator harus mengenal setiap individu dengan baik sebelum dapat menginterpretasikan isyarat-isyarat tersebut dengan meyakinkan. Isyarat-isyarat ini didaftar hanya untuk tujuan sebagai indikator umum bagi fasilitator untuk mengamatinya; periksakan dengan mereka interpretasi anda atas isyarat-isyarat tersebut.

Test / uji asumsi-asumsi

Hubungan-hubungan dalam komunikasi dan hubungan inter-personal terbangun berdasarkan pada asumsi yang dibuat oleh masing-masing pihak satu sama lain. Kadang-kadang asumsi-asumsi ini benar, tetapi sering kali hanya sebahagian saja yang benar, atau keseluruhannya tidak benar. Pada umumnya orang percaya bahwa asumsi mereka benar adanya sampai sesuatu terjadi untuk membuat mereka merubah asumsi itu. Cepat atau lambat, sebagian terbesar dari asumsi-asumsi yang salah mengakibatkan semacam kesalah-pahaman. Semakin lama suatu asumsi yang salah masih berkembang, semakin besar masalah dapat ditimbulkan oleh suatu kesalah-pahaman seperti itu.

Tidak mungkin membatasi asumsi-asumsi dari hubungan-hubungan kita. Manusia tidak dapat menghindarkan diri dari membuat asumsi-asumsi. Namun demikian, kita dapat mengurangi masalah yang dapat disebabkan oleh asumsi-asumsi yang salah. Cara yaitu dapat ditempuh yaitu:

  • Menyadari atas asumsi-asumsi yang anda buat
  • Memeriksa dan menguji kebenaran asumsi-asumsi tersebut.

Dengan demikian maka bila fasilitator (berasumsi) merasa bahwa peserta pelatihan sudah terlalu lelah untuk meneruskan suatu pembahasan, jangan begitu saja membubarkan mereka. Tanyakan pada mereka apakah mereka sudah merasa lelah, ataukah apakah mereka mau melanjutkan terus.
Salah satu jenis asumsi sering direfleksikan dalam kata-kata seperti "selalu" dan "tidak pernah". Ketika seorang fasilitator mengatakan "Totok Hartono selalu terlambat datang dalam pelatihan" atau " Bunga tidak pernah tidak setuju dengan Bulan", fasilitator sedang berasumsi bahwa orang-orang ini tidak fleksibel, bahwa mereka tidak bisa atau tidak akan berubah.

Tidak ada orang yang selalu bertingkah-laku dengan cara yang sama. Apabila fasilitator menggunakan kata-kata seperti itu, fasilitator berbuat tidak adil pada orang-orang yang sedang diskusikan (dan mereka mungkin akan merasa tersinggung karenanya) dan fasilitator tidak berlaku adil pada dirinya sendiri dengan membatasi kemungkinan-kemungkinan yang dapat anda bayangkan.

Berikan Umpan Balik

Satu cara yang baik untuk menguji asumsi ialah memberikan dan meminta umpan balik. Fasilitator bertanya pada peserta pelatihan apa yang mereka maksudkan dengan sebuah kata tertentu, atau fasilitator menyampaikan perasaannya atas apa yang baru saja mereka katakan kepada mereka. Umpan balik paling baik apabila diberikan dengan segera, karena melihat sesuatu ke belakang atau mengingat kembali sesuatu yang sudah terjadi dua minggu lalu membuat orang merasa sukar. Pernyataan-pernyataan umpan balik akan lebih membantu bila pernyataan-pernyataan itu :

  • Mulailah dengan hal yang positif. Hampir semua orang membutuhkan dukungan yang perlu disampaikan setelah mereka mengerjakan sesuatu. Umpan balik berupa kritik dan saran yang baik disampaikan dengan cara benar-benar membantu.
  • Spesifik. Lebih baik bersifat spesifik dari pada umum : "Anda menabrak tangan saya" dari pada "Anda tidak pernah memperhatikan ke mana tujuan anda".
  • Tentatif. Lebih baik bersifat tentatif daripada absolut : "Anda kelihatan tidak merasa prihatin atas masalah ini" dari pada "Anda tidak perduli apa yang terjadi".
  • Informatif. Lebih baik menyampaikan informasi / menginformasikan daripada memerintah : "Saya belum selesai" dari pada "Jangan ganggu saya lagi".
  • Berbentuk Saran & Alternatif. Lebih baik memberikan saran daripada mengarahkan : "Apakah sudah anda pertimbangkan untuk berbicara dengan Tim mengenai situasi itu ?" dari pada "Pergi dan temuilah serta bicarakan dengan Tim".
  • Tingkah Laku. Lebih baik berupa tingkah laku yang bisa diubah daripada bersifat abstrak : "Anda sering mengeluh" dari pada "Anda belum dewasa atau matang".
  • Deskriptif daripada evaluasi. Lebih baik memberikan gambaran tentang sesuatu yang jelas daripada memberikan penilaian pada orang. "Nada suara anda membuat saya merasa kuatir".

Pola & Cara Bicara

Bagaimana cara atau pola seorang fasilitator berbicara memberikan pola pada bagaimana orang menanggapinya. Apa yang dikatakan oleh fasilitator akan menentukan apa yang dapat dikatakan oleh peserta atau orang lain. Jika seorang fasilitator mempertahankan sebagian dari pembicaraannya pada suatu tingkatan yang dangkal, maka peserta pelatihan pada umumnya akan memberikan jawaban pada tingkat yang dangkal pula. Jika seorang fasilitator bersikap terbuka, peserta pelatihan sering kali akan menjawab dengan keterbukaan pula. Memberitahukan tentang keadaan fasilitator dan perasaan-perasaannya akan mendorong peserta untuk memberikan jawaban setimpal.

  • Pernyataan Terbuka. Biarkan pernyataan-pernyataan anda terbuka terhadap kritik dan penilaian dari peserta pelatihan. Fasilitator bisa mengatur suatu kesempatan untuk hal ini pada awal pelatihan atau sesi dari suatu pelatihan dengan mengatakan sesuatu seperti, "Jika anda berpikir bahwa saya telah keluar dari pokok persoalan kapan saja selama pertemuan ini, jangan sungkan-sungkan untuk mengkritik saya atau peringatkan saya atas hal itu. Saya tentu saja tidak akan tidak segan-segan memberitahu anda tentang apa yang saya rasakan". Hal ini mendorong peserta pelatihan untuk memberikan umpan balik pada fasilitator dan juga mendorong peserta pelatihan untuk mengkritik dirinya sendiri.
  • Pernyataan Pribadi. Jangan membuat suatu pernyataan tentang orang lain. Kualifikasikan pendapat atau pernyataan pendapat fasilitator adalah sebagai milik fasilitator itu sendiri. Berikut ini beberapa contoh pernyataan pribadi seperti "Saya kira/pikir ............. dan seterusnya" atau "Nampak bagi saya bahwa ...................." Fasilitator perlu memastikan bahwa peserta pelatihan menyadari bahwa dia sedang mengungkapkan perasaan-perasaan atau pendapat-pendapat pribadi dan tidak membuat keputusan-keputusan terakhir. Bahkan pernyataan-pernyataan seperti "Nampaknya .............." mengandung implikasi yang tidak kentara bahwa dia muncul dengan cara seperti itu terhadap setiap orang. Berkatalah hanya untuk diri sendiri.
  • Komitmen. Fasilitator perlu menunjukkan komitmen dan keprihatinannya terhadap apa yang sedang dikerjakan oleh peserta pelatihan. Mudah-mudahan, fasilitator akan mempunyai komitmen dan keprihatinan yang sunguh-sungguh. Fasilitator tidak dapat mengelabui peserta pelatihan. Jika fasilitator tidak mengatakan yang sebenarnya, nampaknya fasilitator akan dapat dipergoki, dan kemudian akan diberitakan sebagai tidak jujur didalam pelatihan itu. Jadilah diri anda seperti apa adanya (Be Yourself).

Setiap orang membangun suatu gaya pribadi dalam hal berkomunikasi. Adalah penting untuk menambahkan sentuhan-sentuhan pribadi pada bagaimana caranya anda berinter-aksi dengan orang lain. Dalam banyak cara, setiap percakapan adalah suatu eksperimen. Fasilitator dapat, dan tentu saja bisa sekali, belajar setiap kali berbicara dengan orang lain. Caranya ialah menyadari akan apa yang sedang dipelajari, dan belajar menggunakan kesadaran itu.

Menyusun & Mengajukan Pertanyaan

Kemampuan seorang pemandu (fasilitator) pelatihan untuk menyusun dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam suatu kegiatan pelatihan tampaknya dipandang sebagai suatu ketrampilan yang tidak penting. Justru itulah ketrampilan yang paling utama dan mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh seorang pemandu. Karena hakekat dan fungsi pemandu latihan dalam konsep pelatihan partisipatif dan andragogis adalah sebagai "fasilitator". Tidak jarang ditemukan dan ini merupakan kelemahan umum yang ditemui dalam banyak pelatihan. Proses belajar menjadi terhenti atau bahkan salah arah hanya karena pemandu mengajukan pertanyaan yang tidak tepat pada saat dan cara yang tidak tepat pula.

Sebagai seorang (Pemandu) fasilitator, dia akan mengajukan banyak pertanyaan didalam proses pelatihan - untuk menstimulasikan diskusi, untuk menganalisa suatu latihan, untuk mengevaluasi kemajuan peserta pelatihan dan untuk mengevaluasi pelatihan itu sendiri. Mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang bermanfaat, konstruktif dari peserta pelatihan adalah suatu seni. Banyak pemandu pemula ditemukan mengalami berbagai kesulitan untuk mengajukan pertanyaan dan kehabisan kata-kata untuk bertanya hingga akhirnya panik dan bingung. Akibatnya, fasilitator tersebut secara gampangan saja langsung membuat kesimpulan atas pengalaman belajar para peserta, tentu saja menurut persepsinya sendiri. Walhasil, prinsip dasar pelatihan partisipatif pun dilanggar lagi.

Mengajukan pertanyaan atau Teknik Bertanya dalam suatu kegiatan pelatihan, sebenarnya sederhana. yang terpenting adalah taat asas (konsisten) pada prinsip pelatihan partisipatif dan andragogis. Bahkan tidaklah salah bagi seorang pemandu untuk mengakui saja tidak tahu tentang sesuatu hal yang dipertanyakan oleh peserta dan melemparkan kembali pertanyaan tersebut untuk dijadikan bahan diskusi dan memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengemukakan pendapat dan pengalamannya sendiri. Inilah Prinsip Pokok. Untuk menguasai ketrampilan bertanya dapat dilakukan terutama lewat pengalaman, tetapi ada hal-hal tertentu yang bisa dilakukan untuk membuat pertanyaan-pertanyaan yang jelas dan memberikan stimulasi.

Ada beberapa alasan yang mendasari mengapa ketrampilan menyusun dan mengajukan pertanyaan sangat perlu dikuasai oleh fasilitator, yaitu:

  • Bahwa prinsip pelatihan partisipatif dan andragogi menuntut bahwa peranan pemandu adalah "memperlancar" terjadinya proses belajar yang bertumpu pada pengalaman peserta pelatihan yang terlibat didalamnya.
  • Adanya tuntutan metodologis dalam penerapan pelatihan partisipatif dan andragogi yaitu bahwa keterlibatan peserta pelatihan merupakan sesuatu yang mutlak dan prinsipil.
  • Adanya kecenderungan peserta pelatihan dan masyarakat bahwa fasilitator dipandang sebagai sumberdaya informasi, padahal dalam andragogi sumberdaya pengetahuan dan pengalaman adalah peserta pelatihan itu sendiri.

Dalam menyusun dan terutama mengajukan pertanyaan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

  • Rumusan pertanyaan yang diajukan harus yang jelas (clarity)
  • Pertanyaan yang diajukan perlu disederhanakan (simplicity)
  • Pertanyaan yang diajukan bersifat menantang (challenge)
  • Pertanyaan yang diajukan perlu khusus (specificity)

Berbagai Jenis Pertanyaan

Mengajukan pertanyaan untuk mendapatkan jawaban, pendapat dan gagasan yang bermanfaat, konstruktif dan menstimulasi terjadinya proses diskusi, proses analisis dan evaluasi dari peserta pelatihan adalah suatu seni, dan semua itu tergantung dari "jenis" pertanyaan yang diajukan oleh pemandu (fasilitator). Di bawah ini, ada beberapa jenis pertanyaan yang dapat dipergunakan oleh fasilitator sebagai "panduan" di dalam menyusun dan mengajukan pertanyaan. Dalam menyusun dan mengembangkan pertanyaan, dapat didasarkan pada "Siklus Belajar Berdasarkan Pengalaman" sebagaimana telah diuraikan pada halaman 18.

  • Pertanyaan Tertutup (Closed Questions): Merupakan pertanyaan yang menghendaki jawaban sederhana, singkat dan tidak memberikan kemungkinan lain di dalam menjawab pertanyaan tersebut. Biasanya, jenis pertanyaan ini hanya ada dua kemungkinan jawaban, yaitu; "….. atau ……". Pada umumnya pertanyaan jenis ini dipergunakan untuk mengungkapkan fakta. Biasanya pertanyaan jenis ini akan diikuti dengan pertanyaan lain untuk memperdalam dan menjajagi sesuatu lebih jauh lagi.
    Contoh :
    • Apakah Saudara setuju dengan rencana pelatihan ini ?
    • Apakah Saudara sudah menyelesaikan tugas yang sudah saya berikan ?
    • Sebagai fasilitator, kita harus melemparkan pertanyaan yang tidak mengarahkan atau pertanyaan tertutup, ya kan?
  • Pertanyaan Menduga-duga (Presumptive Questions): Merupakan pertanyaan yang mengandung adanya dugaan tertentu terhadap pihak yang ditanya suatu jawaban dimana jawaban yang diharapkan merupakan bagian dari yang dipertanyakan:
    Contoh:
    • Sepeda motor apa yang anda gunakan untuk melakukan perjalanan pendampingan kelompok di lapangan ?
    • Teknik PRA apa yang anda gunakan untuk menjajagi kebutuhan masyarakat ?

Dalam pertanyaan di atas, pihak penanya menduga atau mengasumsikan bahwa pihak yang ditanya "seolah-olah" menggunakan sepeda motor atau menggunakan teknik PRA.

  • Pertanyaan Mengarahkan (Leading Questions): Merupakan suatu pertanyaan yang menghendaki jawaban yang telah diarahkan oleh penanya atau dikehendaki. Pertanyaan jenis ini adalah pertanyaan dimana jawaban yang muncul sudah diketahui oleh pihak penanya.
    Contoh:
    • Undang-undang nomor berapakah yang mengatur tentang otonomi daerah dan perimbangan keuangan pusat dan daerah?
    • Apakah Saudara senang dengan metodologi pelatihan partisipatif ini?
  • Pertanyaan Terbuka (Open Questions): Merupakan suatu pertanyaan yang memberi kebebasan bagi peserta pelatihan dalam memberikan jawaban, gagasan, pendapat dan lain sebagainya. Pada dasarnya pertanyaan terbuka lebih banyak dipergunakan untuk mengungkapkan gagasan yang bersifat analitis
    Contoh pertanyaan terbuka:
    • Bagaimana perasaan anda dengan penggunaan metodologi pelatihan partisipatif dalam pelatihan ini?
    • Mengapa pemberdayaan masyarakat sangat penting dalam pembangunan dewasa ini?
  • Pertanyaan Hipotetik (Hypothetical Questions): Merupakan jenis pertanyaan yang menimbulkan dan memancing praduga dalam memberikan jawaban.
    Contoh:
    • Apa yang terjadi jika Dinas Peternakan menerapkan TQM ?
    • Dampak apa yang dirasakan andaikan semua Dinas Peternakan menggunakan Kerangka Kerja Logis (KKL) dalam proyeknya ?
    • Mengapa anda kurang setuju atau bahkan menolak pendekatan pembangunan "dari atas" (top-down)
  • Probing Questions (Pertanyaan Menyelidik): Merupakan pertanyaan yang bersifat "menyelidik" untuk memperoleh jawaban lebih jauh dan lebih dalam terhadap jawaban yang telah disampaikan. Biasanya pertanyaan "menyelidik" digunakan untuk menindak lanjuti dari pertanyaan sebelumnya dan biasanya pertanyaan tertutup
    Contoh:
    • Anda berpendapat bahwa anda setuju dengan metoda pendekatan partisipatif. Apa keuntungan pelatihan partisipatif ?
    • Kalau anda tidak setuju atau tidak sepakat dengan pendekatan partisipatif, apa alasan anda ?

Ada kategori lain tentang jenis-jenis pertanyaan yang dapat dipergunakan oleh fasilitator untuk memulai dan menggerakkan diskusi lebih jauh, yaitu:

  • Pertanyaan Ingatan: Dimana anda mengalami hal itu ? Apakah hal ini pernah terjadi pada anda ?
  • Pertanyaan Pengamatan: Apa yang sedang terjadi ? Apakah anda telah melihatnya?
  • Pertanyaan Analitis: Mengapa pendekatan partisipatif perlu dilakukan dalam pembangunan peternakan di Indonesia ? Mengapa proyek ini tidak berhasil ?
  • Pertanyaan Perbandingan: Siapakah dalam hal ini yang benar ? Mana yang anda anggap paling tepat antara pendekatan "Top-down" dengan "Bottom-up ?
  • Pertanyaan Proyektif: Apa yang akan terjadi dalam waktu lima tahun mendatang ? Apa yang bakal terjadi dengan pemberlakuan UU No 22 Tahun 1999 dan UU no 25 Tahun 1999 ?

Apapun juga "jenis pertanyaan" yang ada sebagaimana diuraikan di atas, semuanya bertolak dari "Kata Kunci Pertanyaan", yaitu; APA? SIAPA? DIMANA? KAPAN? BAGAIMANA? dan MENGAPA?. Berikut ini ada beberapa panduan praktis menggunakan "Kata Kunci Pertanyaan" tersebut di atas untuk menyusun dan mengajukan pertanyaan, yaitu:

  • Apa? Siapa? Kapan? dan Dimana? Merupakan "kata kunci tanya" untuk mengungkapkan fakta.
  • Bagaimana? Merupakan "Kata Kunci Tanya" untuk mengungkapkan baik fakta maupun pendapat (opini) terutama yang berkaitan dengan perspektif "proses". Demikian pula dengan "Mengapa?" juga dipergunakan untuk mengungkapkan gagasan atau pendapat namun lebih berkaitan dengan perspektif "waktu".

Atas dasar itu, maka akan lebih mudah bagi fasilitator untuk menggunakan dan menerapkan "Kata Kunci Pertanyaan" tersebut di atas dalam pelatihan.

Dalam memfasilitasi pelatihan partisipatif, khususnya yang berkaitan dengan menyusun dan mengajukan pertanyaan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

  • Hindari pertanyaan tertutup dan pertanyaan yang menuntun dan mengarahkan. Tekankan pada penggunaan pertanyaan yang bersifat terbuka.
  • Menyusun dan mengajukan pertanyaan dalam bentuk atau cara yang positif.
  • Persiapkan pertanyaan lebih awal atau sebelum pelatihan berlangsung.
  • Siapkan dan ajukan pertanyaan sesuai dengan tujuan pelatihan atau tujuan suatu pokok bahasan. Jika pertanyaan sesuai dengan tujuan latihan, pikirkan dalam-dalam jawaban-jawaban apa yang mungkin anda terima.
  • Lakukan ujicoba "daftar pertanyaan tersebut" kepada fasilitator lain atau teman-teman lainnya.
  • Rumuskan pertanyaan dengan jelas, singkat dan sederhana. Jika diperlukan jawaban umum atau dalam suatu cakupan jawaban yang luas, susunlah pertanyaan tersebut dalam bentuk terbuka, menggunakan kata-kata yang abstrak dan pertanyaan-pertanyaan yang singkat seperti "Bagaimana perasaan anda dalam pelatihan ini ?" Jika diinginkan jawaban yang spesifik, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang spesifik dan terperinci. Misalnya, "Apa yang anda pikirkan pada saat Totok Hartono menyampaikan informasi kepada Pimpro Program DELIVERI bahwa Pelatihan TQM akan ditunda dalam permainan peran tadi ?

Ada berbagai kemungkinan yang muncul dari pengajuan pertanyaan yang dilakukan fasilitator.
Untuk itu ada beberapa TIP untuk dapat mereaksi suatu jawaban "yang sulit" dari peserta, yaitu:

  • Bilamana jawaban yang ada tidak benar atau kurang lengkap: Jangan mengejek atau menyepelekan, atau bersifat sarkastis, atau mengabaikan jawaban tersebut. Tunjukkan penghargaan atas jawaban tersebut dan tunjukkan sesuatu yang tepat dan lengkap dari jawaban yang telah disampaikan tersebut kemudian lanjutkan dengan orang lain atau dapat juga lengkapi dan perbaiki jawaban tersebut atau dapat juga anda mengajukan pertanyaan yang bersifat untuk menggali lebih jauh lagi untuk memperoleh jawaban yang tepat.
  • Bilamana jawaban kurang jelas tetapi orang yang menjawab mempunyai jawaban yang tepat di dalam pikirannya: Untuk itu lakukan pengecekan terhadap peserta yang lain apakah mereka memahami apa yang telah disampaikan atau dapat juga anda melakukan dengan cara meminta peserta yang lain untuk mengulang apa yang telah disampaikan oleh orang yang memberi jawaban atau dapat juga dengan meminta peserta lain tentang pemahamannya.
  • Bilamana pertanyaan ditanggapi oleh peserta dengan sikap diam saja. Pertanyakan kepada diri anda sendiri, "Apakah pertanyaan saya jelas?". Keheningan mungkin diikuti dengan pandangan peserta yang menduga-duga. Hal ini menunjukkan bahwa para peserta masih belum memahami apa yang dipertanyakan daripada sikap tidak mau memberi jawaban. Apakah anda menilai terlalu tinggi kemampuan peserta?. Bertanyalah dalam beberapa tahapan yang lebih spesifik.
  • Bilamana jawaban menghendaki pandangan atau pendapat fasilitator: Sampaikan dengan tegas bahwa anda mengetahui atau tidak mengetahui jawaban tersebut, tetapi lebih baik jika fasilitator tidak memberikan jawaban dan anda menyampaikan agar peserta memberikan informasi atau jawaban yang dibutuhkan sebagai proses belajar. Dapat juga anda melempar kembali pertanyaan tersebut kepada peserta lain, dengan mengajukan pertanyaan "Bagaimana menurut anda?
  • Bilamana orang yang seringkali memberikan jawaban yang cepat dan benar. Sampaikan penghargaan dan terima kasih kepadanya. Kemudian berikan kesempatan kepada peserta lain untuk memberikan jawaban atau memberikan tanggapan terhadap pertanyaan dan jawaban tersebut.

Akhirnya, jawaban apapun juga, yang terpenting adalah melakukan pengecekan sebelum berpindah atau melangkah hal yang lain untuk menanyakan apakah setiap orang telah memahami dan puas dengan jawaban-jawaban yang ada dan rangkuman serta kesimpulan yang ada.

Memfasilitasi Diskusi

Peranan fasilitator dalam sebuah diskusi akan berbeda sesuai dengan jenis diskusi dan profil peserta pelatihan. Dalam beberapa situasi fasilitator akan menjadi salah satu anggota yang turut memberikan sumbangan pemikiran disamping juga sebagai fasilitator. Dalam situasi yang lain adalah tidak tepat bagi fasilitator untuk tidak banyak menyampaikan pendapat-pendapat dan perasaan-perasaannya sendiri.

Kadang-kadang fasilitator akan menjadi nara sumber; pada saat yang lainnya peserta pelatihan tahu lebih banyak tentang topik bahasan yang didiskusikan dari pada fasilitator. Namun demikian, dalam kebanyakan diskusi, peranan fasilitator antara lain meliputi membuat diskusi terfokus pada pokok bahasan, memperjelas (atau meminta klarifikasi) bilamana sesuatu nampak membingungkan, dan membantu menciptakan dan menjaga situasi dimana setiap orang ikut mengambil bagian dengan cara bekerja sama.

Membuat Sesuatu Berjalan

Ada diskusi-diskusi yang tidak perlu mendapatkan stimulasi - diskusi itu terjadi dengan sendirinya. Namun demikian, dalam banyak hal, fasilitator perlu membantu memulai suatu diskusi. Berikut ini ada beberapa prinsip dan teknik yang akan sangat membantu.

  • Setiap orang hendaknya mengetahui dan memahami dengan tepat tentang apa, atau topik, materi yang didiskusikan dan alasan atau latar belakang diskusi itu. Seringkali diskusi tidak segera berjalan, suasana yang kaku dimana setiap orang hanya melihat-lihat ke sekeliling ruangan, menunggu seseorang lain untuk mengatakan sesuatu. Hal ini mungkin saja terjadi oleh karena peserta pelatihan atau anggota kelompok diskusi tidak tahu dengan tepat apa yang seharusnya mereka bicarakan, atau bagaimana cara membahas pokok bahasan itu.
  • Berikan kesempatan dan peluang kepada para peserta untuk bisa terlibat aktif dalam proses diskusi. Bilamana peranan fasilitator terlalu mengarahkan dalam diskusi boleh jadi membuat peserta menjadi segan dan takut untuk mengambil tanggungjawab atas apa yang terjadi dalam diskusi mereka. Peserta mungkin saja menunggu fasilitator untuk memberikan petunjuk. Jika hal ini terjadi, mintalah peserta pelatihan untuk menentukan seseorang untuk "memimpin" jalannya diskusi.
  • Jadilah suatu model atau contoh. Tingkah laku fasilitator dapat menunjukkan atau menjadi model bagi para peserta pelatihan bagaimana caranya mereka bisa ikut ambil bagian. Peserta pelatihan mungkin mengikuti contoh dari fasilitator dan memulai diskusi itu dari contoh tersebut. Fasilitator dapat membantu mengatur nada percakapan yang bersifat santai dan terbuka untuk diskusi dengan cara yang santai, terbuka dan bersifat informal selama diskusi terjadi.
  • Gunakan pertanyaan terbuka dan menantang untuk menstimulasi diskusi. Sebuah pertanyaan sederhana seperti "Bagaimana menurut perasaan anda tentang masalah ini ?" adalah suatu cara yang baik untuk memulai suatu diskusi. Lihat seksi sebelumnya tentang menyusun pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan gagasan bagaimana caranya melakukan hal ini.
  • Memulai dengan membuat daftar individu. Salah satu teknik untuk mendorong peserta untuk mengeluarkan dan menyampaikan pendapat atau gagasan adalah memulai dengan membuat daftar individu. Daftar individu anggota diskusi ini digunakan sebagai dasar untuk diskusi itu. Fasilitator bisa memulainya dengan meminta setiap peserta secara individual untuk membuat daftar berdasarkan pendapatnya sendiri kemudian didiskusikan bersama
  • Mengitari kesekeliling ruangan dan menanyakan setiap orang untuk memberikan satu jawaban adalah satu versi dari membuat daftar. Hal ini sering digunakan untuk mendorong keterlibatan setiap orang untuk memulai diskusi.
  • Membuat catatan-catatan. Selama diskusi, dan terutama ketika membuat daftar, siapkan seorang juru catat (fasilitator itu sendiri sendiri, team fasilitator lain, atau salah seorang anggota kelompok) untuk mencatat semua hal pada sebuah papan tulis atau selembar kertas koran yang ditempelkan pada dinding.

Kegunaannya adalah:

    • Setiap peserta / orang dapat melihat materi apa saja yang sudah dibahas dan mengacu padanya bila perlu.
    • Sebagai suatu dasar untuk bahan diskusi selanjutnya. Misalnya, ketika satu kelompok sudah menghasilkan sebuah daftar masalah, mereka bisa melihat pada daftar tertulis guna memisah-misahkan masalah-masalah ini ke dalam persyaratan-persyaratan umum.

Meskipun daftar itu tidak ditempel pada dinding sehingga semua orang boleh melihatnya adalah juga bermanfaat untuk mempunyai seorang juru catat untuk menyiapkan bagi peserta pelatihan suatu uraian dan pelaporan tertulis atas apa yang sudah terjadi didalam suatu pelatihan.

  • Hubungkan diskusi itu dengan pengalaman-pengalaman langsung dari peserta pelatihan. Adalah sukar bagi peserta orang untuk terlibat dalam suatu diskusi yang begitu abstrak atau terlalu jauh dari pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Semakin banyak suatu diskusi dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman dan keprihatinan-keprihatinan nyata dari peserta itu sendiri, semakin antusias mereka dalam mengambil bagian dalam diskusi itu.
  • Gunakan humor untuk menghilangkan ketegangan dan kebosanan. Kadang-kadang jika fasilitator mengatakan sesuatu yang aneh dan tidak masuk akal atau melakukan sesuatu yang tidak terduga, fasilitator bisa menangkap imajinasi-imajinasi dari peserta pelatihan orang yang jalan pikirannya sudah melayang atau untuk membangun situasi informal sehingga para peserta yang ragu-ragu akan merasa lebih enak dan leluasa dalam memberikan sumbangsihnya. Peserta pelatihan yang berbeda akan memberikan reaksi yang berbeda dalam berbagai jenis humor. Fasilitator seharusnya mengetahui cukup banyak mengenai peserta untuk mengukur atau memperkirakan reaksi mereka sebelum melakukan sesuatu yang aneh.
  • Menggunakan Intuisi (Indera keenam) dalam memilih teknik-teknik apa yang akan digunakan dengan peserta pelatihan tertentu. Setiap situasi akan berbeda. Begitu fasilitator mendapatkan pengalaman dalam memfasilitasi, fasilitator tersebut akan belajar menyesuaikan gayanya sesuai dengan peserta pelatihan.

Memfasilitasi Proses Diskusi

Ada banyak hal yang dapat dikerjakan oleh seorang fasilitator selama berlangsungnya diskusi. Apa yang dilakukan akan tergantung pada kemampuan fasilitator, gaya fasilitator, peserta pelatihan tertentu dan juga situasi tertentu.
Kadang-kadang perhatian fasilitator tertuju pada isi atau topik diskusi, kadang-kadang menyangkut inter-aksi antara peserta pelatihan (proses), tetapi yang paling sering adalah keduanya; isi dan proses.
Berikut ini adalah beberapa kategori-kategori umum dari tingkah laku fasilitator.

  • Menyama-ratakan partisipasi. Adalah tidak realisitis untuk mengasumsikan bahwa partisipasi akan dibagi secara merata di antara seluruh peserta. Ada yang ingin berpartisipasi lebih banyak atau lebih sedikit dari pada yang lainnya. Untuk menyamaratakan partisipasi peserta dapat ditempuh hal-hal sebagai berikut:
    • Tidak membiarkan satu orang atau sekelompok kecil orang-orang untuk mendominasi diskusi.
    • Memberikan peluang dan kesempatan bagi anggota-anggota yang diam atau tidak pernah bicara untuk memberikan sumbangsihnya jika mereka kelihatan tertarik tetapi tidak dapat menembus masuk ke dalam diskusi itu.
  • Bertahan terus pada pokok atau topik bahasan. Peranan fasilitator boleh jadi termasuk memperingatkan kelompok bilamana diskusi menyimpang dari pokok bahasan atau bilamana pelatihan itu melanggar satu agenda yang sudah disetujui pada awal pelatihan
  • Mengklarifikasi dan menginterpretasi. Dari waktu ke waktu fasilitator boleh menyusun ulang berbagai hal yang sudah pernah disampaikan sebelumnya untuk memperjelas kembali. Fasilitator boleh menginterpretasikan arti sesuatu secara pribadi, atau menurut pendapat peserta pelatihan. Lakukan ini dengan suatu cara yang bersifat sementara yang meninggalkan peluang bagi sudut pandang orang lain. Sering kali, dari pada klarifikasi dan interpretasi dilakukan oleh fasilitator sendiri, disarankan bahwa peserta pelatihan memberikan umpan balik atas apa yang sudah dikatakan.
  • Membuat ringkasan. Ini berarti menarik beberapa bagian dari diskusi secara bersama-sama dan membuat kesimpulan. Ini termasuk menyatakan kemajuan yang sudah dicapai, dan kemana arah tujuan peserta pelatihan tersebut kelompok
  • Membuat langkah. Mungkin juga menjadi peranan fasilitator untuk membuat peserta tetap menyadari bagaimana caranya bergerak maju dan kapan mungkin saatnya untuk maju terus. Ini termasuk mengatakan hal-hal seperti, "Apakah pokok bahasan ini sudah tercakup secara menyeluruh ? Barangkali kita hendaknya mulai bicara tentang bagaimana caranya kita akan memanfaatkan informasi ini, "……atau…..". Nampaknya kita saling memahami dengan baik sudut pandang masing-masing satu sama lain. Saya pikir kita sudah siap membuat sebuah keputusan.
  • "Pengolahan". Ini berarti membantu agar anggota-anggota kelompok bekerja dengan baik secara bersama-sama pada suatu tingkat antar perseorangan. Sering kali inilah bagian yang paling penting dari peranan fasilitator.
    Fungsi fasilitator dalam pengolahan ialah untuk menjaga agar komunikasi tetap terbuka di antara peserta pelatihan sehingga kerja sama bisa terjadi dan perselisihan dapat ditangani secara konstruktif. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan cara-cara sebagai berikut:
    • Memberikan kesempatan-kesempatan kepada para peserta pelatihan untuk saling mengekspresikan dan mendengarkan perasaan-perasaan orang lain
    • Meminta umpan balik dari peserta atau memberikan saran-saran yang dibutuhkan peserta.

Sangatlah penting bahwa peserta pelatihan harus mengerti bahwa kata-kata dari fasilitator bukanlah hukum atau undang-undang yang harus dipenuhi dan ditaati. Interpretasi atau saran apa saja yang dibuat oleh fasilitator harus sesuai dengan kualifikasi dari para peserta. Lebih jauh lagi, tidak satupun dari tingkah laku peserta ini dibatasi fasilitator. Semakin kelompok itu bersikap menerima gagasan bahwa semua peserta bertanggungjawab atas apa yang terjadi dalam pelatihan, semakin banyak tingkah laku yang dapat direfleksikan oleh peserta dari waktu ke waktu.

Teknik Memfasilitasi Secara Tim

Memfasilitasi atau memandu bukanlah tugas yang hanya dapat dilakukan oleh seorang saja. Pada kenyataannya, sangat disarankan untuk mempunyai dua atau tiga orang faslitator bilamana memungkinkan. Memfasilitasi atau memandu secara tim mempunyai banyak keuntungan. Dua orang fasilitator dapat menjalankan peranan-peranan yang berbeda didalam proses pelatihan sehingga dapat saling membantu satu sama lain dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada peserta pelatihan. Mengingat setiap fasilitator mempunyai latar belakang yang berbeda dan perspektif yang berlainan, mereka akan mempunyai kemampuan-kemampuan yang berbeda dan menanggapi secara berbeda pula terhadap beragam situasi-situasi di dalam pelatihan.

Dengan mempunyai dua atau lebih fasilitator, maka hal ini juga menguntungkan bagi peserta yaitu sedang meningkatkan keterampilan fasilitator kepada peserta pelatihan.

Ada beberapa model yang dapat diterapkan dalam memfasilitasi secara tim, yaitu antara lain:

  • Fasilitator -Juru Catat. Adanya suatu pembagian tugas di antara dua orang fasilitator yaitu seseorang bertindak dalam kapasitas rutin sebagai fasilitator, dan fasilitator kedua bertindak sebagai juru catat. Mempunyai seseorang yang terampil untuk bertindak dalam peranan ini dapat mengambil sebagian dari beban keluar dari fasilitator utama. Sebagai tambahan, sang juru catat akan merupakan tenaga bantuan yang sangat besar dengan jalan menyediakan penguatan tertulis atas sasaran-sasaran dan tujuan dari pertemuan tersebut.
  • Divisi Peranan Proses-Muatan / Isi Pelatihan Model lain yang dapat diterapkan adalah "Proses" dan "Isi", yaitu satu fasilitator mungkin memusatkan perhatian pada isi atau muatan dari diskusi, pokok bahasan masalah. Fasilitator yang kedua memberikan perhatian terhadap apa yang sedang terjadi dalam pelatihan, bagaimana caranya orang-orang melakukan inter-aksi di antara mereka. Model ini membuka kemungkinan untuk cakupan yang jauh lebih menyeluruh dari kedua peranan itu, yaitu sebagai nara sumber dan sebagai fasilitator pelatihan. Sementara fasilitator isi / muatan dapat memusatkan seluruh perhatiannya pada melaksanakan presentasi yang berhubungan dengan informasi, membahas pendapat-pendapat, gagasan dan lain-lain. Sedangkan fasilitator proses mengambil tanggungjawab untuk melihat bahwa interaksi belajar berjalan secara seimbang dan sesuai yang diharapkan.
  • Aktif - Pasif. Satu orang memainkan peranan sebagai seorang fasilitator tradisional, sementara orang kedua terlibat jauh dengan peserta sebagai orang kunci untuk mengidentifikasikan dengan peserta-peserta lainnya dan memberikan umpan balik kepada fasilitator.

Pembagian-pembagian peranan ini tidak ketat, juga bukanlah merupakan satu-satunya kemungkinan yang ada. Bilamana dua orang memfasilitasi, akan menjadi lebih mudah bila membagi peranan masing-masing pihak dalam kelompok-kelompok kecil. Seorang fasilitator mungkin memikul beban itu untuk sementara waktu, kemudian yang lainnya dapat mengambilnya. Jika seorang fasilitator terlibat di dalam sebuah perselisihan pertikaian, fasilitator yang kedua dapat memberikan cara pemecahan yang obyektif. Suatu keuntungan tertentu ialah bahwa fasilitator-fasilitator itu dapat saling memberikan dukungan satu sama lain, saling menunjukkan masalahnya antara satu dengan yang lain dimana salah satunya mungkin tidak menyadari hal itu, dan saling memperingatkan atas hal-hal yang mungkin terlupakan oleh salah satunya, dan lain-lain.

Suatu bahaya dari fasilitasi secara tim ialah bahwa dua orang memasuki sebuah kelompok, saling mengenal antara satu dengan lainnya, bahan-bahan dan rencana-rencana mereka, dan saling berbagi harapan-harapan yang sama, boleh jadi dengan sengaja atau secara kebetulan memanipulasi peserta pelatihan.

Mereka dapat memainkan diskusi dengan secara bergantian mengarahkannya menuju suatu sasaran tertentu; mereka dapat memaksakan persepsinya masing-masing, dan dengan demikian menjadi kurang sensitif terhadap masukan-masukan dari peserta. Kedua fasilitator itu seharusnya waspada terhadap kemungkinan ini agar supaya dapat menghindarinya.

Melakukan fasilitasi secara tim dengan seorang fasilitator yang berpengalaman adalah suatu cara yang sangat bagus untuk mendapatkan pengalaman dan belajar tentang ketrampilan dalam memfasilitasi dan bekerja bersama dengan peserta pelatihan. Kami sarankan bahwa fasilitator-fasilitator baru melakukan hal ini bilamana memungkinkan

PRINSIP-PRINSIP DASAR MEMFASILITASI

Pada umumnya kita sudah berpengalaman terlibat bersama dan bekerjasama dengan orang lain di dalam semacam kelompok atau organisasi yang mempunyai sesuatu tujuan tertentu, seperti misalkan "Kelompok 20" di Jakarta, "Kelompok 17" di Makassar atau organisasi lain seperti Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) dan lain sebagainya. Sebagai anggota organisasi atau kelompok, anda mungkin sudah pernah diminta dan dipilih untuk mengisi semacam fungsi kepemimpinan, apakah itu dalam memimpin suatu pertemuan, mengkoordinir sebuah seminar atau lokakarya, berfungsi sebagai nara sumber, atau terpilih menjadi "pejabat" dalam masyarakat. Masing-masing dari setiap fungsi kepemimpinan berbeda-beda dalam formalitas peranan dan dalam tingkat kewenangan yang dipikulkan pada peranan itu.

Terdapat berbagai macam cara dalam melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan. Banyak kelompok atau organisasi mempunyai seseorang yang ditunjuk dan ditugaskan sebagai pemimpin kelompok atau ketua organisasi. Orang tersebut memikul tanggung jawab atas apa yang terjadi dalam pertemuan-pertemuan kelompok atau organisasi. Dia sudah mendapat delegasi wewenang untuk mengambil inisiatif dan tanggung jawab untuk mengundang anggota-anggotanya dan mengadakan pertemuan-pertemuan, bertindak sebagai pimpinan sidang, merencanakan agenda dan mungkin membuat keputusan sehari-hari. Inilah bentuk yang paling umum dari kepemimpinan kelompok atau organisasi.

Bagaimanapun juga ada sebuah bentuk alternatif fungsi-fungsi kepemimpinan yang lain untuk disebarluaskan, dipergunakan dan dikembangkan, yaitu semua anggota berbagi dalam tanggung jawab. Dalam hal ini bagaimana menjadi seorang "pemimpin" dalam sebuah kelompok atau organisasi dimana semua anggotanya secara bersama-sama berperanserta dalam proses pembuatan keputusan dan tanggung jawab. Jenis kepemimpinan yang akan kita bahas, yaitu - MEMFASILITASI atau MEMANDU - dirancang untuk membantu kelompok mampu melaksanakan fungsinya lebih efektif dengan jalan menghimpun ketrampilan-ketrampilan kepemimpinan dan potensi dari seluruh anggota.

FUNGSI & PERAN SEORANG FASILITATOR

Pekerjaan (fungsi dan peranan) seorang fasilitator ialah memusatkan perhatian pada seberapa baik peserta pelatihan bekerjasama. Tujuan dan fokus ini ialah untuk memastikan bahwa peserta sebuah pelatihan dapat mencapai tujuan mereka dalam pelatihan tersebut.

Fasilitator percaya bahwa masing-masing peserta pelatihan dapat memikul tanggungjawab bersama atas apa yang terjadi, antara lain:

  • memanggil para peserta untuk mengingatkan mereka akan jadwal pertemuan berikutnya
  • menjamin bahwa setiap peserta mempunyai kesempatan untuk memberikan sumbangan pada sebuah diskusi
  • meninjau dan mengetahui bahwa agenda yang disusun bertujuan untuk melayani tujuan dan kepentingan peserta pelatihan dan pelatihan itu sendiri.

Akibat pembagian bersama ini yaitu bisa menyamaratakan tanggungjawab atas keberhasilan atau kegagalan suatu pelatihan dan memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang untuk melakukan pengawasan dalam menentukan apa yang yang terjadi dalam sebuah pelatihan dan keputusan-keputusan apa yang diambil.

Seorang fasilitator dapat memenuhi berbagai jenis kebutuhan yang berbeda dalam bekerja dengan peserta pelatihan. Hal ini ditentukan oleh tujuan peserta pelatihan untuk datang dan berkumpul bersama dan segala sesuatu yang diharapkan dari individu yang akan bertindak sebagai fasilitator.

Pengalaman Nyata

Sebagai contoh, anda sudah diminta untuk memberikan presentasi mengenai bidang keahlian anda (misalnya perencanaan regional) kepada sebuah kelompok yang terdiri dari masyarakat yang berminat. Tujuan dari pertemuan itu adalah semata-mata hanya bersifat memberikan informasi.

Sebagai nara sumber, anda bisa mempengaruhi dinamika diskusi melalui cara yang anda pergunakan dalam menyajikan informasi anda, suasana seperti apa yang anda ciptakan dalam kelompok (terbuka atau tertutup, ringan atau berat) dan oleh sikap yang anda tunjukkan kepada orang-orang yang bekerja dengan anda.

Suatu isyarat sangat sederhana tanpa kata-kata - dimana anda duduk - dapat mengakibatkan betapa orang merasa senang dalam suatu diskusi mengikuti presentasi anda. Jika anda duduk pada bagian depan dari ruangan menghadap para hadirin yang duduk berderetan, dan mempunyai sebuah podium di depan anda, anda mempunyai baik jarak dalam ruangan maupun benda penghalang (sebuah obyek tempat berlindung dibaliknya) antara anda sendiri dan anggota kelompok lainnya. Peserta pertemuan kurang mampu menjadi tantangan anda, dan anda terlindung dari upaya mendengarkan apa yang dikatakan peserta.

Sebagai tambahan, perhatian peserta terpusat terutama pada anda, tidak diantara mereka sendiri. Hal ini membuat anda mendapat wewenang yang besar. Pada sisi lain, jika anda dapat duduk diantara para peserta lainnya, dengan mereka berada di sekeliling anda, maka hal ini secara fisik akan menyamakan hubungan dan memudahkan terjadinya proses interaksi. Tujuan dari peranan anda sebagai nara sumber adalah berbagi informasi, dan bukan menempatkan diri anda di atas kelompok sebagai seorang ahli. Dengan memberikan peluang untuk mereka bebas bertanya dan mencoba mendapatkan umpan balik, anda bisa menyelesaikan ini dan, selain itu anda bisa belajar sendiri dari mereka. Contoh sederhana ini akan, kami harap, mendemonstrasikan beberapa segi dari model fasilitasi itu seperti apa.

Seseorang tidak perlu diberikan label sebagai "fasilitator" agar menggunakan teknik-teknik fasilitasi didalam sebuah pelatihan. Siapa saja anggota kelompok bisa mengajak kembali kelompok ke bahan pokok diskusi, menyela pola-pola pertentangan atau kesalahpahaman di antara pihak-pihak lain, menawarkan atau mengusulkan komentar-komentar yang bersifat menjelaskan / memperjelas, membuat ringkasan atas kegiatan-kegiatan atau memberikan umpan balik yang bersifat memberikan penilaian. Di dalam beberapa pelatihan, tanggungjawab ini dibagi merata oleh banyak orang atau seluruh peserta. Pada pelatihan lainnya, dimana pesertanya kurang terampil dalam hal proses interaksi belajar, akan mengharapkan

NILAI-NILAI DALAM MEMFASILITASI

  • Demokrasi : Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk ikut ambil bagian dalam proses belajar dimana dia menjadi peserta tanpa prasangka; perencanaan untuk pertemuan apa saja terbuka luas dan dilakukan secara bersama-sama oleh fasilitator dan para peserta; agenda dirancang untuk memenuhi kebutuhan para peserta dan terbuka terhadap perubahan-perubahan para peserta; dan untuk jangka waktu selama fasilitator bekerja dengan mereka itu, tidak ada struktrur organisasi secara hirarkis yang berfungsi.
  • Tanggung Jawab : Setiap orang bertanggungjawab atas kehidupannya masing-masing, pengalaman-pengalaman dan tingkah lakunya sendiri. Hal ini mencakup pula pada tanggungjawab atas partisipasi seseorang di dalam sebuah pertemuan atau pelatihan. Sebagai fasilitator, bertanggungjawab terhadap rencana yang sudah dibuat, apa yang dilakukan, dan bagaimana hal ini membawa pengaruh pada isi, partisipasi dan proses pada pembahasan itu. Fasilitator juga bertanggungjawab atas dirinya sendiri dan apa yang terjadi pada fasilitator. Fasilitator harus sensitif terhadap bagaimana dan seberapa besar para peserta bersedia dan mampu memikul tanggungjawab pada setiap pertemuan atau pelatihan. Melalui pengalaman, para peserta dapat belajar memikul tanggungjawab yang semakin besar.
  • Kerjasama : Fasilitator dan para peserta bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama mereka. Orang mungkin akan mengatakan bahwa kepemimpinan adalah sesuatu yang dilakukan oleh seseorang terhadap sebuah kelompok. Sedangkan fasilitasi / memandu adalah sesuatu yang dilakukan oleh seseorang bersama dengan sebuah kelompok.
  • Kejujuran : Fasilitator mewakili secara jujur nilai-nilai dirinya sendiri, perasaan, keprihatinan dan prioritas dalam bekerja bersama seluruh peserta pelatihan, dan fasilitator seharusnya menentukan suasana bagi suatu harapan akan kejujuran dari seluruh peserta. Ini juga berarti bahwa fasilitator harus jujur dengan dan terhadap peserta dan terhadap dirinya sendiri menyangkut apa saja yang mejadi kemampuan fasilitator. Fasilitator harus mewakili dirinya sendiri secara adil dan tidak berusaha untuk berbuat terlalu jauh melampaui kemampuannya sendiri dalam peranan sebagai fasilitator.
  • Kesamaan Derajat : Setiap anggota mempunyai sesuatu yang dapat disumbangkan pada peserta pelatihan dan perlu diberikan kesempatan yang adil untuk melakukan hal itu; Fasilitator menyadari bahwa dia dapat belajar dari para peserta sebesar apa yang mereka bisa pelajari dari fasilitator. Pada saat yang sama, setiap peserta mempunyai hak untuk memilih dan memutuskan untuk tidak ikut ambil bagian pada pokok bahasan tertentu dalam suatu pertemuan atau pelatihan.

PENGERTIAN FASILITASI

Pengertian Memfasilitasi
Istilah "memfasilitasi / memandu" sudah dipakai dalam berbagai cara yang berbeda oleh berbagai orang yang berbeda. Istilah tersebut dipergunakan untuk diartikan sebagai suatu peranan tertentu dalam sebuah kelompok, yang diasosiasikan dengan nilai-nilai tertentu pula. Dalam pembahasan ini, akan didefinisikan apa yang disebut dengan "facilitation" (memfasilitasi) dan akan diidentifikasi nilai-nilai dan tanggung jawab yang menyertainya.

Memfasilitasi berasal dari kata bahasa Inggris "Facilitation" yang akar katanya berasal dari bahasa Latin "facilis" yang mempunyai arti "membuat sesuatu menjadi mudah". Dalam Oxford Dictionary disebutkan :"to render easier, to promote, to help forward; to free from difficulties and obstacles". Secara umum pengertian "facilitation" (fasilitasi) dapat diartikan sebagai suatu proses "mempermudah" sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Dapat pula diartikan sebagai "melayani dan memperlancar aktivitas belajar peserta pelatihan untuk mencapai tujuan berdasarkan pengalaman". Sedangkan orang yang "mempermudah" disebut dengan "Fasilitator" (Pemandu).